I We Cudai
| --Khrisna Pabichara telah kusiapkan walenreng’e, menjadi perahu tumpanganmu di hulu saqdan. ketika kapakmu, menjadi tumpul tak berdaya. kupoles walenreng’e menjadi perahu perkasa. berlayarlah Tenri Tappuq, pelaut maha pelaut seberangilah laut, juga maut. bersamamu, sehelai rambut, simpul jiwaku menjadi pemandu penuntun pelayaranmu ke negeri yang jauh. pun sepasang cincin gelang sebagai tanda mata, dan mahar buat pengantinmu, hai La Pura Eloq. senyap mengiring langkahmu, petirpun menyembunyikan gelegarnya. Segan padamu, hai Pamadeng Lette. sunyi menyertai lambaian tanganmu, menyeret serta inginku menyatu, yang terbentur sabda Batara Lattu’: “haram hukumnya menikahi saudara!” berangkatlah, dengan amarah yang diperam, dan rindu yang menggeram. tak usah risau, dirikulah ia, yang siap melengkapi dirimu. dia, pun menitis dari benih batara guru, la togeq langiq. mana helai rambut yang kutitip dahulu, sebelum bayangmu menghilang dari ujung tangga istana luwu. ukur-ukurkanlah, di rambutnya tentu tak ada beda, sebab rambutnya adalah rambutku hatinya adalah jiwaku dirinya adalah jelmaku cintanya adalah rinduku Rindu We Tenri Abeng kepadamu! |

ocehan pada "I We Cudai"
tulis ocehan